Rembuk Stunting Kampung Karangan Kecamatan Biatan
Sebagai wadah musyawarah partisipatif masyarakat, rembuk stunting menjadi hal penting yang dilakukan antara pemerintah desa, kader kesehatan, tokoh masyarakat, dan semua masyarakat yang ada di kampung untuk dapat membahas dan merumuskan program pencegahan dan penurunan stunting yang mungkin saja terjadi. Tujuan dilakukannya rembuk ini semata-mata untuk dapat mengidentifikasi masalah stunting, menyusun rencana aksi yang dapat dilakukan, membangun komitmen bersama, serta mengintegrasikan program penanggulangan stunting ke dalam perencanaan desa seperti RKP dan APBKam.
Rembuk stunting kali ini diadakan di Kampung Karangan, Kecamatan Biatan 13 Oktober 2025 di Balai Pertemuan Umum Kampung Karangan. Hadir dalam pertemuan ini kader KPM Kampung, Kader Posyandu dari 2 posyandu yang ada di Kampung Karangan, Guru Paud, Anggota BPK, dan RT, serta beberapa aparatur kampung yang terlibat membantu pelaksanaan rembuk stunting ini. Acara ini dibuka langsung oleh Kepala Kampung Karangan, Bpk. Mustakim Mangera. Beliau menyampaikan bahwa rembuk ini penting sebagai bagian dari proses perencanaan yang ada di kampung.
Sebagai narasumber hadir dari Dinas Kesehatan Puskesmas Biatan, Ibu Nur Hidayah yang kembali mengingatkan peran penting Kader Posyandu dalam perannya untuk bersama-sama mencegah stunting di Kampung Karangan. Di Kampung Karangan sendiri ada 2 Posyandu yang aktif melaksanakan kegiatan posyandu yaitu Posyandu Mawar dan Posyandu Tengiri. 2 Posyandu ini bersama peran aktif dari tenaga penyuluh di Puskesmas Biatan selalu berkoordinasi dan memberikan pemahaman terkait stunting dan layanan kesehatan baik Ibu hamil, menyusui, maupun terhadap bayi dan anak-anak mereka.
Dalam kesempatan ini kader posyandu juga menyampaikan permasalah terkait pemberian makanan tambahan (PMT) di posyandu yang orang tua anaknya yang datang enggan menerima atau memberikan makan ke anaknya dengan alasan anaknya sehat-sehat saja yang kemudian disimpulkan oleh kader bahwa orang tuanya itu mungkin malu apabila menerima atau makan, nantinya anaknya disebut stunting. Hal ini menjadi 'PR' kita semua pelaku di lapangan agar bisa memberikan pemahaman yang tuntas apa dan bagaimana stunting itu sehingga di masyarakat tidak salah persepsi seperti contohnya ibu tersebut.
Semoga rangkaian kegiatan rembuk stunting yang diadakan di kampung seperti ini perannya dapat maksimal untuk dapat mencegah dan menurunkan prevalensi stunting di Kabupaten Berau ke depannya.


No stunting yess.... Indonesia Maju
BalasHapusPencegahan Stunting salah satunya membawah Bayi/Balita ke Posyandu
BalasHapusCegah Stunting untuk Indonesia Maju
Maksimal DD untuk pengentasan stunting di berau
BalasHapusIndonesia bebas Stunting dimulai dari Desa💪
BalasHapus